Zaim Saidi

Memakmurkan Wakaf Masjid

Oleh: Zaim Saidi (Direktur TWI)

Sumber: http://www.tabungwakaf.com/ 14 July 2010

Dalam Al-Qur’an, Surat Hud, ayat 61, Allah SWT berfirman, “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”. Ayat ini menegaskan bahwa kitalah, bukan golongan jin atau malaikat, yang bertugas memakmurkan kehidupan ini. Kata yang digunakan dalam ayat ini adalah ta’mara, berasal dari akar kata ‘-m-r dan menghasilkan kata ‘amr, dan isti’mar. Kata ini dapat berarti ’mendirikan di atas tanah’ atau ’pembangunan’, tetapi juga bermakna lebih dinamis, yakni pemakmuran. Dari ayat dan kata itu pula kita dapatkan istilah ta’mir, yang secara spesifik melekat pada istilah ta’mir masjid.

Jelas bahwa masjid harus dimakmurkan, dalam banyak arti tentunya, secara spiritual tetapi juga secara sosial. Masjid adalah tempat ibadah tapi juga pusat interaksi sosial. Sebagaimana perintah salat (ibadah pribadi) dan zakat (ibadah sosial) yang tak terpisahkan, ibadah ritual pribadi dan muamalat juga merupakan kesatuan. Karena itu Rasulullah SAW mengajarkan agar kita memperlakukan masjid dan pasar, baik secara fisik maupun normatif, secara adil. Keduanya harus dimakmurkan sekaligus memakmurkan. Bahkan, dalam salah satu haditsnya Rasulullah SAW menegaskan, ”Sunnahku di Pasar, sama dengan Sunnahku di Masjid’.

Bagaimana kita dapat mewujudkan tuntunan tersebut? Kembali perhatikanlah keteladanan Rasulullah SAW, amal generasi awal di Madinah, serta praktek umat Islam sesudahnya, dalam memperlakukan keduanya. Keduanya, masjid dan pasar, selalu dibangun berdampingan. Pusat kota-kota Islam, dimulai dari Madinah Al Munawarrah, juga Bagdad atau Istambul, selalu dimulai dari sebuah masjid dan pasar secara bersebelahan. Keduanya saling memakmurkan, yang di masjid tidak melupakan pasar, dan yang di pasar selalu mengingat masjid, sebagaimana juga disitir oleh Al-Qur’an (Surat Al Jumu’ah ayat 9-10).

Dalam situasi sekarang lihatlah masjid-masjid kita: sudahkah kita membangun kemakmurannya? Dalam konteks yang lebih sempit, dalam dataran fisik, masjid-masjid kita yang dibangun dari harta wakaf umumnya justru teralienasi dari kehidupan sosial umatnya sendiri. Maka, bahkan untuk memeliharanya apalagi untuk membangun yang baru, kita harus terus-menerus bergulat mengais infak dan sedekah. Menjadi pemandangan biasa orang-orang menyodorkan kotak-kotak sedekah, mengumpulkan uang recah, di pinggir-pinggir jalan untuk memelihara dan membangun masjid.

Kalau diakumulasi secara total tentu sangat besar biaya yang kita butuhkan untuk memeliharanya, jangankan untuk memakmurkannya. Jumlah masjid yang tercatat di Dewan Masjid Indonesia saja, saat ini, ada 750 ribu buah. Belum lagi yang tidak tercatat, boleh jadi melebihi angka ini. Karenanya marilah kita berupaya mulai memakmurkan masjid-masjid ini, antara lain, dengan meningkatkan pola pengelolaan wakafnya. Kita ikuti ajaran Rasuluallah SAW untuk ’menahan pokok dan mengalirkan hasil” harta wakaf ini. Kita awali dengan masjid-masjid yang berlokasi di tempat-tempat bernilai ekonomi, di sepanjang jalan protokol, di tepi jalan raya, di pusat-pusat perbelanjaan dan persimpangan kota, dan sejenisnya.

Sisihkan sejumlah lahan, atau rancang ulang yang ada, hingga diperoleh aset yang produktif, menjadi ruang perkantoran, toko dan kios, rumah makan dan restoran, atau wisma penginapan, yang bisa mendatangkan uang. Maka pendapatan masjid tidak lagi sekadar dari kotak sedekah atau infak penitipan sepatu di hari Jumat. Kita tidak perlu lagi mengandalkan ’penjaringan’ uang di jalan-jalan. Masjid-masjid yang lebih makmur bahkan dapat pula membiayai (wakaf) masjid-masjid lain yang memang tidak memungkinkan memiliki aset produktif. Satu dua masjid telah melakukannya, mari kita teladani mereka.

Melipatgandakan Pahala Sedekah

Oleh:  Zaim Saidi (Direktur TWI)

Sumber: http://www.tabungwakaf.com/ 14 July 2010

Pada suatu saat ketika para Sahabat menyembelih seekor kambing, Rasulullah SAW bertanya kepada Ummul Mu’minin, Aisyah, r.a., “Apakah masih ada yang tersisa dari kambing itu?” Aisyah menjawab, “Ya, tinggal sampil mukanya saja.” Mendengar jawaban ini Rasulullah SAW berkata, “Semuanya masih tersisa, kecuali sampil mukanya.” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Begitulah harta yang disedekahkan tidaklah berkurang, ia akan tetap tinggal di akhirat kelak. Harta yang kita makanlah yang akan habis, bersamaan dengan habisnya keseluruhan dunya ini. Maka, dalam haditsnya yang lain, Rasul SAW mengatakan, ”Dunia adalah rumah bagi orang yang tidak mempunyai rumah di akhirat, dan harta dunia adalah harta bagi yang tidak memiliki harta di akhirat.” Bukankah sangat jelas diterangkan di sini, agar kita dapat memiliki rumah dan harta di akhirat, jalannya adalah lewat sedekah?

Tetapi tidak semua sedekah sama derajat dan pahalanya. Sedekah yang diberikan di kala seseorang dalam kesempitan memiliki nilai lebih besar ketimbang sedekah yang diberikan saat seseorang itu berada dalam kelonggaran. Harta yang disedekahkan untuk sesuatu yang sekali habis dipakai, juga mendapatkan pahala yang sekali-waktu saja. Harta yang disedekahkan untuk sesuatu yang memberikan manfaat lestari, akan mendapatkan pahala yang abadi pula. Inilah perbedaan antara sedekah dan sedekah jariah.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa sedekah jariah, kita mengenalnya dalam istilah wakaf, tak akan putus pahalanya, karena kamatian para pemberinya. Dengan kata lain, rumah dan harta akhirat yang dibangun oleh para wakif, terus berlangsung bahkan ketika mereka telah meninggalkan dunia ini. Dalam penalaran kita, yang sudah barang tentu masih teramat jauh dari kemurahan janji Allah SWT sendiri, adalah bahwa pahala sedekah dapat dilipatgandakan katika diniatkan dan dilaksanakan sebagai sedekah jariah, sebagai wakaf, dan bukan sekadar sebagai sedekah-sesaat untuk kegiatan konsumtif.

Maka, ketika bersedekah, ubahlah niat dan akad yang Anda lakukan. Sebab (akad) perbuatan tergantung kepada niatnya. Ketika seseorang bersedekah, katakanlah Rp 1 juta, sebagai sumbangan konsumtif mengobati seorang fakir yang sakit, pahala yang diperolehnya adalah sebatas nilai konsumsi itu. Tetapi, ketika Rp 1 juta itu, diniatkan dan diakadkan sebagai wakaf, yang kelak bersama dengan sedekah-sedekah lainnya telah sampai pada jumlah yang cukup, dan dibelikan aset produktif dengan surplus yang dialirkan kepada para fakir yang sakit, pahalanya akan terus mengalir. Sepanjang aset itu tetap produktif, dan surplusnya dialirkan sebagai jariah, selama itu pula tabungan akhirat Anda, sebagai seoraang wakif, terus bertambah.

Berwakaf tidak perlu menunggu sampai seseorang memiliki harta besar hingga cukup untuk membeli aset secara sendirian. Tentu, kalau ia mampu, perbuatan ini akan menjadikannya sampai pada ”puncak kebajikan”, sebagaimana dijanjikan oleh Allah SWT (Ali Imran 92). Tetapi, Rasulullah SAW dan para Sahabatnya, memberikan teladan tentang wakaf gotong royong (wakaf syuyu’i), harta wakaf yang diadakan atau dibeli secara patungan. Tugas para nadzirlah untuk menghimpun dan mengelola sedekah-sedekah yang relatif kecil ini menjadi aset produktif yang cukup signifikan, hingga dapat menghasilkan surplus yang lestari.

Karena itu, sebagai nadzir Tabung Wakaf Indonesia (TWI) merancang berbagai program wakaf gotong royong tersebut, dalam berbagai bentuk: sarana pendidikan (seperti SMART EKSELENSIA Ekselensia), sarana kesehatan (seperti Klinik LKC), sarana sosial (Wisma Muallaf), sarana ekonomi (pertokoan dan ruko), dan sebagainya. Sejauh mungkin aset-aset wakaf ini pun dikelola secara terpadu, ada kesatuan antara aset produktifnya dengan jasa layanan sosialnya. Hingga manfaatnya lestari, dan pahalanya abadi.

Berwakaflah dengan Cinta

Zaim Saidi (Direktur TWI)

Sumber:  http://www.tabungwakaf.com/ 09 July 2010

Orang yang pertama kali tercatat dalam sejarah sebagai seorang wakif adalah Umar Ibn Khattab r.a., yang mewakafkan kebunnya di Khaibar. Kisahnya bermula ketika pada suatu hari Umar Ibn Khattab mendatangi Rasulullah SAW dan menyampaikan soal keberadaan tanah kebunnya yang begitu subur. Terjadilah dialog ringkas ini.

“Ya, Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki sebidang tanah di Khaibar. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki tanah sesubur ini. Apa yang Tuan perintahkan terhadapku atas tanah tersebut?”

Rasulullah SAW bersabda, “Kalau engkau mau, tahan pokoknya dan alirkan surplusnya!”

Dengan itu Sahabat Umar pun memutuskan untuk tidak menjual, menghibahkan, atau mewariskan kebunnya. Kemudian atas hasil kebunnya itu ia jariahkan untuk fakir-miskin, memerdekakan hamba-sahaya, menjamu para tetamu, dan membiayai kegiatan fi sabilillah lainnya. Demikianlah pola wakaf yang diajarkan kepada kita, dan diamalkan oleh para dermawan Muslim di sepanjang sejarah Islam. Tahan asetnya, produktifkan, dan alirkan surplusnya, untuk kepentingan umum (wakaf khaeri).

Kisah berikut yang bisa kita rujuk adalah dari Abi Thalhah yang juga mewakafkan tanah kebunnya di Bairukha. Seperti Umar Ibn Khattab ia juga menemui Rasul SAW, dan menyampaikan niatnya, setelah ia mendengar sabda Allah SWT dalam Al Qur’an yang berbunyi “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sesungguhnya sampai kamu sedekahkan harta yang kamu cintai” (Surat Ali Imran, 92). “Sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah kebunku di Bairukha, ya Rasulallah. Tempatkan ia seperti yang Allah telah tunjukkan kepadamu,” ujar Abi Thalhah.

Dan inilah jawaban Rasul SAW, “Wah, wah, itu harta yang sungguh menguntungkan. Aku telah mendengarnya, dan kutunjukkan kepadamu, sedekahkanlah hartamu itu kepada famili terdekat.” Mendengar itu, Abi Thalhah membagikan harta itu kepada kaum kerabatnya dan keponakan-keponakannya. Kisah ini juga mengajarkan kepada kita bahwa berwakaf untuk keluarga dan kerabat (yang disebut sebagai wakaf ahli) adalah bagian dari sunnah dan amal.

Meski dengan tujuan yang berbeda, untuk keperluan umum dalam kasus Umar Ibn Khattab atau untuk keperluan kerabat dan keluarga dekat seperti dalam kasus Abi Thalhah, keduanya menyerahkan harta masing-masing dengan landasan cinta. Kebun-kebun terbaik mereka, yang paling mereka sukai, itulah yang mereka sedekahkan. Dan begitulah sebenar-benarnya kebajikan. Wakaf, baik wakaf khaeri maupun wakaf ahli, yang didasarkan kepada pengabdian kepada Allah SWT, merupakan pilar dari jaminan kesejahteraan sosial dalam Islam, bukan asuransi atau dana pensiun atau jaminan sosial lainnya, yang tiada lain adalah riba yang haram – tapi kini merajalela.

Keteladanan dua orang Sahabat nabi di atas juga memberikan kejelasan kepada kita semua bahwa bersedekah adalah bentuk lain dari pengabdian kita kepada Allah SWT dan RasulNya SAW. Allah SWT menyatakan dalam Al Qur’an bahwa bersedekah adalah bagian dari transaksi hidup (dien) orang beriman dengan Tuhannya. Allah menyebutnya, antara lain, sebagai ‘pinjaman yang baik’ (qardul hasan), yang akan mendapatkan balasanNya.

Karena itu motivasi seorang Muttaqin yang bersedekah mestinya berbeda dengan orang-orang lain, yang mendasari sedekahnya karena ’dorongan emosional’, semisal ‘merasa kasihan kepada sesama’, atau ‘menolong fakir-miskin’. Apalagi sekadar menjadikannya sebagai ajang melepas rasa bersalah, karena “merasa dirinya kaya-raya sementara orang lain miskin”, sambil terus-menerus melakukan eksploitasi atas buruh pabrik miliknya atau menjalankan bisnis tanpa mengindahkan syariat. Atau, bahkan, sambil terus mengumpulkan kekayaannya dengan cara-cara tidak halal dan merusak, bergelimang dalam riba, seperti umumnya ‘kaum filantropis’ masa kini.
Last Updated on Wednesday, 14 July 2010 03:38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s