Suhrawardi K Lubis

WAKAF TUNAI DAN PENINGKATAN EKONOMI UMAT

Oleh: Suhrawardi K Lubis

*Pengajar UMSU, Pengelola Gerakan Wakaf Tunai PW. Muhammadiyah SU. E-mail: suhrawardilubis@yahoo.com, Webblog: http://suhrawardilubis.multiply.com

Sumber: http://suhrawardilubis.multiply.com/

I. Pendahuluan

Kemiskinan hingga kini, merupakan fakta yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Berdasarkan data Tim Indonesia Bangkit, angka kemiskinan mengalami peningkatan dari 16 persen pada Pebruari 2005 menjadi 18,7 persen per Juli 2005, menjadi 22 persen per Maret 2006. Kemudian, Desember tahun 2007 lalu, terjadi polemik mengenai jumlah angka kemiskinan. Pastinya makin tinggi patokan garis kemiskinan, maka makin tinggi jumlah orang miskin (per Maret 2006 angka Rp.152.847).

Fakta ini menunjukan bangsa Indonesia belum sepenuhnya merdeka dari kemiskinan. Pemerintah sendiri sampai sekarang kelihatannya masih gamang untuk melakukan pengentasan kemiskinan. Langkah yang ditempuh bersifat tambal sulam. Selain itu, sampai hari ini pemerintah belum dapat melepaskankan diri dari belitan utang luar negeri yang berbasis bunga. Karena hal itu, utang menjadi sumber penting pembiayaan APBN. Akibatnya, setiap seorang anak lahir, ia telah terbelit lilitan hutang sekitar 11 juta rupiah.
Sesunguhnya banyak cara yang ditawarkan oleh Islam untuk mengatasi persoalan tersebut. Misalnya, dengan cara menggali sumber dana melalui wakaf tunai (wakaf dalam bentuk uang). Wakaf merupakan satu bentuk kebajikan unik dalam ajaran Islam karena menggabungkan aspek kerohanian dan kebendaan. Lebih khusus lagi, orang yang berwakaf akan memperoleh pahala secara terus menerus. Walaupun ia (pewakaf) sudah meninggal dunia, selagi harta yang diwakafkan itu memberi manfaat kepada masyarakat. Tegasnya sekali berwakaf berjuta kali manfaat didapat.

Dari sudut kepentingan umat, jika dana wakaf tunai ini dapat dikembangkan, inilah sebenarnya sumber dana raksasa. Perekonomian nasional akan segera menggeliat dan dapat melepaskan diri dari belitan belenggu kapitalisme global.

II Wakaf Tunai Sumber dana Raksasa

Selama ini secara tradisional masyarakat hanya mengenal wakaf berupa benda yang tidak bergerak. Umumnya berupa tanah dan bangunan yang lazimnya dipergunakan untuk tanah pekuburan, mesjid, dan madrasah. Masalahnya wakaf dalam bentuk uang belum tersosialisasi dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Padahal wakaf tunai ini memberi kesempatan yang sangat luas kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersadaqah jariah, dan mendapatkan pahala yang tidak pernah terputus. Bagaikan sumber mata air yang mengalir sampai jauh tiada pernah berhenti tanpa menungu menjadi orang kaya terlebih dahulu. Hal berbeda dengan amalan wakaf dalam bentuk tanah atau bangunan, baru dapat diamalkan dengan nilai yang relatif besar. Hanya dengan sejumlah uang tertentu sudah dapat berwakaf, dan nadzir akan mengeluarkan selembar sertifikat wakaf sebagai bukti wakaf. Intinya, wakaf tunai adalah berwakaf dengan sejumlah uang tertentu (termasuk surat berharga), yang bertujuan untuk menghimpun dana abadi umat yang bersumber dari umat Islam.

Wakaf tunai sebenarnya bukan persoalan baru dalam agama Islam. Imam Az-Zuhri (wafat tahun 124 H), telah memfatwakan kebolehan wakaf uang (saat itu berupa dinar dan dirham) untuk pengadaan sarana dakwah, sosial dan pembangunan umat. Kemudian dipopulerkan kembali oleh MA. Mannan melalui pendirian Social Investment Bank Limited (SIBL) yang khusus didirikan untuk mengelola dana wakaf.

Apabila wakaf tunai ini dapat disosialisasikan dengan baik ke tengah-tengah masyarakat, alangkah besarnya potensi dana yang akan terkumpul. Andaikan saja dari sekitar 200 juta umat Islam di Indonesia, mau melaksanakan ibadah wakaf tunai sebesar 10 persen (sekitar 20 juta orang) dengan besaran wakaf Rp.50 ribu rupiah setiap bulan, maka dalam waktu satu tahun akan terkumpul dana sebesar Rp. 12 Triliun setiap tahun. Dana ini akan bertambah dari tahun ke tahun, kalau saja gerakan wakaf tunai ini dapat dilaksanakan dengan baik Nominalnya, dalam jangka waktu10 tahun saja, akan terhimpun dana sebesar Rp. 120 Triliun. Tentunya, ini merupakan sumber dana raksasa yang luar biasa yang dimiliki umat Islam.

Alasan lain, mengapa wakaf tunai disebut sebagai sumber dana raksasa, adalah terbukanya peluang yang sebesar-besarnya kepada setiap orang (maupun kelompok, jamaah, korporat) untuk beribadah dalam bentuk shadaqah jariah (berwakaf). Sebab ibadah wakaf tunai ini dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa harus menjadi kaya terlebih dahulu.

Melihat potensi raksasa ini, mestinya umat Islam harus lebih proaktif memikirkan secara serius langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menggali potensi wakaf tunai. Dengan tergalinya potensi ini, sangat banyak hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengejar ketertinggalan ekonomi umat Islam.

Wakaf Tunai untuk Peningkatan Ekonomi Umat

Apabila dana abadi umat terhimpun melalui gerakan wakaf tunai, banyak aktivitas perekonomian umat Islam dapat terbantu. Dr. Murat Cizakca mengemukakan dalam; A History of Philantrophic Foundations: The Islamic World From The Seventh Century to The Present, pada zaman pemerintahan Ottmaniah di Turki, amalan wakaf tunai berhasil meringankan perbelanjaan kerajaan dalam menyediakan kemudahan pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial lainnya kepada masyarakat. Cizakca menambahkan, secara logika, jika amalan wakaf tunai diamalkan pada masa sekarang sepatutnya mampu memainkan peranan yang sama seperti yang terjadi pada zaman Ottmaniah dan dapat membantu mewujudkan tujuan makro ekonomi modern, yaitu menurunkan perbelanjaan Negara. Lalu, menurunkan defisit belanja negara dan seterusnya mengurangi ketergantungan negara kepada instrumen hutang atau pinjaman sebagai sumber pembiayaan proyek pembangunan.

Besarnya potensi wakaf tunai ini terbukti dengan fakta, seperti yang dilakukan oleh Islamic Relief (organisasi pengelola wakaf tunai di Inggris) yang berhasil memobilisasi dana wakaf tunai setiap tahun tidak kurang dari 30 juta poundsterling. Dana ini kemudian dikelola secara professional dan amanah. Hasilnya disalurkan kepada lebih dari 5 juta orang yang berada di manca negara. Di Bosnia, Islamic Relief melalui dana wakaf tunai telah berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi lebih dari 7.000 orang melalui Income Generation Waqf.

Di Malaysia, gerakan wakaf tunai ini juga sudah mendapat perhatian. Beberapa Majlis Agama Islam Negeri dan Syarikat Swasta sudah mulai menggerakkanya, seperi Majlis Agama Islam Selangor telah mulai memperkenalkan skim saham wakaf. Bahkan Johor Corporation Berhad (JCorp) melalui 3 anak perusahaannya telah mewakafkan saham miliknya dengan nilai aset bersih berjumlah RM200 juta di bawah kelolaan Kumpulan Waqaf Annur Berhad. Kemudian dividen yang diperoleh dari saham itu digunakan dan diinvestasikan kembali, serta diberikan kepada Majlis Agama Islam dan untuk kegiatan-kegiatan amal kebajikan umat Islam di Malaysia.

Dalam konteks perekonomian negara Indonesia, wakaf tunai dinilai merupakan alternatif yang tepat untuk melepaskan (setidaknya mengurangi) ketergantungan bangsa Indonesia dari lembaga-lembaga kreditor multilateral. Sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selanjutnya, untuk peningkatan ekonomi umat Islam di Indonesia, sumber dana raksasa wakaf tunai berpotensi untuk dana pengelolaan dan pemanfaatan harta wakaf (terutama tanah-tanah wakaf yang belum dikelola dengan baik). Dengan demikian, lebih berhasil guna dan berdaya guna untuk pencapaian tujuan wakif. Misalnya untuk pembangunan property (seperti hotel, swalayan, pasar) di atas tanah wakaf yang strategis. Tanah-tanah wakaf yang luas dan cocok untuk lahan pertanian diolah dan ditanami sedemikian rupa, sehingga dapat menghasilkan (produktif). Lahan-lahan sempit dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan produktif seperti budidaya jamur, budidaya tanaman hias, dan lain-lain. Aktivitas seperti ini akan dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas bagi angkatan kerja muslim.

Selain itu, dapat diinvestasikan dalam kegiatan ekonomi produktif, seperti membeli saham perusahaan yang bonafid, membebaskan pengusaha kecil dari jeratan lintah darat/rentenir dalam bentuk pinjaman dana bergulir. Setidaknya dana tersebut ditempatkan di Lembaga Keuangan Syariah (seperti Perbankan Syariah, Koperasi Syariah, Baitul Mal Wat Tamwil). Penempatan ini selain dapat menambah permodalan Lembaga Keuangan Syariah, bagi hasil yang diperoleh dapat dipergunakan nadzir untuk keperluan pemberdayaan ekonomi umat Islam.

Pemanfaatan dana wakaf untuk kegiatan-kegiatan produktif seperti di atas sebenarnya secara tegas digambarkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, bahwa Umar bin Khatab r.a memperoleh tanah (kebun) di Khaibar, lalu ia datang kepada Nabi SAW. untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut, ia berkata: ”Wahai Rasulullah saya memperoleh tanah di Khaibar, yang belum pernah saya peroleh harta yang lebih baik bagiku melebihi tanah tersebut, apa perintah engkau (kepadaku) mengenainya?, Nabi SAW menjawab, jika mau, kamu tahan pokoknya dan kamu sedekahkan (hasilnya), Ibnu Umar berkata: maka Umar menyedekahkan tanah tersebut (dengan mensyaratkan) bahwa tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan) ia menyedekahkan hasilnya kepada fuqara, kerabat, riqab (hamba sahaya, orang tertindas), sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak berdosa dari orang yang mengelola untuk memakan dari (hasil) tanah itu secara ma’ruf (wajar) dan memberi makan (kepada orang lain) tanpa menjadikannya sebagai harta hak milik. Rawi berkata, saya menceritakan hadis tersebut kepada Ibnu Sirin, lalu ia berkata ’ghaira mutaatstsilin malan’ (tanpa menyimpanya sebagai harta hak milik). (H.R. al-Bukhari, Muslim, al Tharmidzi, al-Nasa’i).

Hadis ini menggambarkan bahwa sesungguhnya sedari awal Rasulullah SAW menegaskan dan memberi arahan yang tegas bahwa wakaf itu digunakan untuk kepentingan yang bersifat produktif. Malahan dalam hadis ini tidak tergambar sama sekali wakaf itu digunakan untuk pendirian mesjid, pengadaan kuburan, madrasah.

Penutup

Melihat potensi raksasa wakaf tunai, sudah pantas umat Islam mulai mengerakkan secara serius upaya-upaya untuk menggali sumber dana umat yang terpendam dalam bentuk wakaf tunai. Ini sesuatu yang sangat mungkin bisa dicapai. Apalagi persoalan hukum formal wakaf tunai ini sudah tuntas diatur dalam UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Apabila potensi wakaf tunai ini dapat digali dan dikembangkan, pasti dapat membantu meningkatkan dan memberdayakan ekonomi umat Islam di Indonesia. Amin ya Allah

WAKAF SEBAGAI SUMBER DANA ABADI MASJID

Suhrawardi K Lubis, Pengamat dan Pakar Wakaf dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ; E-mail: suhrawardilubis@yahoo.co.id

Sumber: ANTARA Sumut ; http://www.antarasumut.com/

Tidak dapat dipungkiri, masjid merupakan institusi penting di dalam masyarakat Islam. Pada masa awal pemerintahan Islam, selain berfungsi sebagai tempat ibadah dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan, masjid juga befungsi sebagai pusat pemerintahan, kebudayaan dan silaturrahim.

Masa kini, fungsi masjid ada yang mengalami penciutan dan adapula yang sedikit berkembang. Menciut misalnya menjadikan masjid hanya sebagai pusat ibadah belaka. Sedangkan yang berkembang, fungsi masjid bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi difungsikan juga untuk keperluan-keperluan lain. Hal ini sejalan dengan ungkapan Sofyan Syafri (1996), bahwa fungsi masjid ada yang mengalami penciutan dan ada juga yang berkembang. Fungsi yang berkembang terlihat adanya kecendrungan gerakan baru di kalangan umat Islam. Gerakan baru itu selain menjadikannya masjid sebagai pusat ibadah, juga dijadikan sebagai pusat kebudayaan atau bahkan muamalat. Perkembangan seperti ini terlihat di dalam maupun di luar negeri.

Agar fungsi masjid dapat berjalan dengan baik, tentunya harus disokong oleh dana yang cukup. Ketiadaan dana, mengakibatkan sedikitnya fasilitas infra dan sufra struktur yang dapat digunakan sebagai sarana pengembangan masyarakat. Misalnya, menjadikan komplek masjid sebagai sarana olah raga, kesenian, pendidikan perpustakaan dan sebagainya.

Keperluan Dana Masjid

Semua aktivitas tentunya memerlukan pembiayaan, demikian juga aktivitas yang dilaksanakan di masjid. Semakin banyak aktivitas, semakin besar jumlah dana yang diperlukan.

Aktivitas masjid yang dilaksanakan secara konvensional saja, memerlukan biaya yang relatif besar dan rutin. Misalnya biaya untuk pembayaran rekening listrik, rekening air, biaya kebersihan, biaya penjaga masjid, biaya transport khatib Jum’at, transport muballigh. Belum lagi keperluan biaya yang sifatnya insidental, seperti biaya renovasi, pemeliharaan/perbaikan masjid.

Apalagi masjid difungsikan sebagaimana dilaksanakan pada awal Pemerintahan Islam. Dana yang diperlukan tentu jumlahnya akan semakin besar. Misalnya, masjid dijadikan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pusat pengembangan ekonomi, pusat kebudayaan, pusat pembinaan ukhwah. Apabila masjid difungsikan seperti ini, tentunya jumlah dana yang diperlukan akan semakin besar.

Apabila masjid dijadikan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, jumlah dana yang diperlukan semakin besar. Semakin kompleks pendidikan yang dilaksankan, semakin besar pula dana yang diperlukan. Misalnya untuk pembangunan sarana dan prasarana, gaji karyawan , gaji guru, dan sebagainya. Keperluan dana akan semakin besar lagi, apabila masjid difungsikan juga sebagai pusat pengembangan ekonomi, pusat kebudayaan dan pusat pengembangan ukhwah.

Sumber Lazim Keuangan Masjid

Secara konvensional, sumber keuangan rutin masjid sebagaimana dikemukakan Dewan Masjid Indonesia Sumatera Utara (2003) berasal dari kotak/tromol. Kotak /tromol infaq tersebut, ada yang diletakkan di pintu masuk, dan kalau hari Jum’at biasanya dibuat mobil. Hampir di semua masjid yang ada di Indonesia, ketika khatif mengucapkan salam untuk memulai khutbahnya, kotak infaq mobilpun mulai berjalan mengitari seluruh shaf jama’ah. Padahal khutbah dalam sholat Jum’at merupakan bagian dari ibadah sholat. Apakah aktivitas kotak infaq mobil tersebut merusak nilai ibadah Jum’at?, tentunya para ahli fiqh ibadah yang lebih berwenang mengkajinya.

Memang ada yang lebih terhormat penempatan kotak infaq tersebut, seperti di toko-toko, rumah makan, dan sebagainya. Namun tetap terkesan, keperluan dana mesjid berasal dari belas kasihan orang yang sedang berbelanja atau sedang makan. Selain itu, sebahagian masjid ada yang menggerakkan zakat dan wakaf konvensional dari jamaah.

Namun, apabila mengandalkan sumber pendanaan konvensional tersebut tentunya tidaklah memadai. Sebab, uang pemasukan tidak sebanding dengan biaya pengeluaran. Dengan kata lain lebih besar pasak dari tiangnya.

Untuk menutupi keperluan dana, sebahagian mesjid terkadang melakukan pengumpulan dana yang cendrung memalukan dan menurunkan martabat umat Islam. Misalnya mengirim utusan untuk meminta sumbangan dari rumah ke rumah. Ada juga yang meminta sumbangan dipersimpangan jalan dengan memanfaatkan waktu lampu pengatur lalu lintas jalan. Bahkan ada juga masjid yang mengumpulkan sumbangan di tengah jalan, dengan cara menangguk belas kasihan dan rasa iba dari pengguna jalan. Umumnya peminta-minta uang untuk keperluan masjid ini tidak peduli orang tersebut muslim atau tidak.

Melihat besarnya dana yang diperlukan sebuah masjid, dan tidak memadainya sumber pendanaan masjid, perlu dicari jalan keluar yang akan dijadikan sebagai alternatif pendanaan sebuah mesjid. Dari berbagai alternatif pendanaan, yang paling berpeluang untuk dimanfaatkan secara baik adalah dengan cara memanfaatkan institusi wakaf.

Wakaf Alternatif Sumber Keuangan Abadi

Menurut pengertian bahasa, kata “waqf” berasal dari kata bahasa Arab “waqofa-yaqifu-waqfa” yang berarti ragu-ragu, berhenti, memperlihatkan, memperhatikan, meletakkan, mengatakan, mengabdi, memahami, mencegah, menahan dan tetap berdiri (Farida Prihartin, dkk, 2005). Sedangkan kata al-waqf merupakan bentuk masdar dari ungkapan Iwaqfu al-syai, yang berarti menahan sesuatu (Muhammad Abid Abdullah al-Kabisi, 2004).

Sedangkan menurut istilah, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf Pasal 1 ayat 1 menjelaskan wakaf sebagai suatu perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebahagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Wakaf dalam Islam sudah dikenal bersamaan dengan dimulainya era kenabian Muhammad saw. Ditandai dengan pembangunan mesjid Quba. Kemudian disusul dengan pembangunan mesjid Nabawi yang dibangun di atas tanah anak yatim dari Bani Najjar yang dibeli oleh Rasululah. Rasulullah mewakafkan tanah yang dibelinya itu untuk dibangun masjid, dan kemudian para sahabat memberikan sokongan berupa wakaf untuk penyelesaian pembangunannya masjid tersebut (Mundzir Qahaf, 2004).

Keunikan institusi wakaf dikarenakan wakaf merupakan salah satu ibadah yang mencakupi hablum minallah dan hablum minannas, seperti dikemukakan oleh Tim Penyusun Pedoman Pengelolaan Wakaf Tunai (2004). Tim ini mendapati bahwa wakaf adalah salah satu lembaga sosial Islam yang dianjurkan sebagai sarana menyalurkan rezeki yang diberikan Allah. Wakaf dikategorikan sebagai amal jariah yang pahalanya akan terus mengalir walau si wakif telah meninggal dunia. Karena harta wakaf terus dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat banyak.

Kajian Tim ini relevan dengan kajian Muhammad Hisyam Mohamad (2007). Beliau menemukan bahwa wakaf adalah salah satu bentuk kebajikan unik dalam Islam, karena ia merupakan ibadat yang menggabungkan aspek kerohanian dan kebendaan. Lebih istimewa lagi, wakif akan memperoleh pahala berterusan walaupun selepas ia meninggal dunia selagi harta yang diwakafkan itu memberikan manfaat kepada masyarakat umum.

Banyak Negara yang telah mendayagunakan wakaf untuk menyokong program-program yang bertujuan untuk kesejahteraan umum. Uswatun Hasanah (2006) mengemukakan bahwa beberapa Negara telah mengembangkan wakaf secara produktif, misalnya Mesir, Turki, Yordania telah memanfaatkan wakaf untuk memajukan bidang pendidikan, kesehatan, penelitian, pengentasan kemiskinan, peningkatan ekonomi umat, dan lain-lain sebagainya.

Mendayagunakan wakaf sebagai sumber pembangunan dan dana abadi mesjid dapat dilakukan dengan berbagai cara. Apalagi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Pasal 16 secara tegas menjelaskan bahwa harta benda wakaf terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak.

Benda tidak bergerak meliputi: hak atas tanah, bangunan atau bagian bangunan, tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah, hak milik atas satuan rumah susun dan benda tidak bergerak lainnya sesuai dengan ketentuan syariah. Sedangkan benda bergerak, meliputi: uang, logam mulia, surat berharga, kenderaan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa dan benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah.

Berdasarkan ketentuan di atas, yang memiliki peluang besar untuk dijadikan sebagai sumber dana abadi masjid adalah Wakaf konvensional, memproduktifkan harta wakaf, Wakaf tunai/uang, wakaf pohon kelapa, wakaf sawit, wakaf coklat, dan lain-lain sebagainya.

1. Wakaf Konvensional

Yang dimaksudkan dengan wakaf konvensional adalah wakaf dengan pola yang lazim dilakukan ditengah-tengah masyarakat secara turun temurun, seperti selama ini. Misalnya berwakaf dalam bentuk sebidang tanah, digunakan untuk tapak pembangunan mesjid. Setelah itu masyarakat juga berwakaf dalam bentuk bahan bangunan. Seperti wakaf semen, wakaf batu bata, wakaf kusen, wakaf seng, wakaf kaca, wakaf keramik, dan lain-lain sebagainya.

Setelah mesjid selesai dibangun, kemudian mulai dimanfaatkan sebagai tempat melaksanakan ibadah sebagaimana lazimnya. Persoalan mulai timbul, diperlukan dana untuk membayar tagihan rekening air, rekening listrik, biaya kebersihan mesjid, penjaga mesjid dan transport khatif Jum’at dan pengajian rutin. Dana tersebut diperlukan secara rutin alias berkesinambungan. Disisi lain sumber dana rutin tidak ada. Akibatnya, banyak mesjid yang tidak terkelola dengan baik.

Wakaf konvensional ini, dapat diandalkan hanya untuk pembangunan fisik masjid. Sedangkan untuk pembinaan kegiatan rutin dan aktivitas-aktivitas lainnya tidak dapat diandalkan. Karena lazimnya wakif sudah mulai berhenti berwakaf kalau pembangunan mesjid sudah selesai.

2. Wakaf Produktif

Lazimnya, benda wakaf selalu berbentuk tanah dan bangunan. Benda wakaf selain yang dimanfaatkan untuk masjid, sekolah dan tanah kuburan, selalu tidak termanfaatkan secara baik. Bahkan menjadi beban tambahan kepada masyarakat. Misalnya untuk biaya pemeliharaan dan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan.

Agar harta wakaf tidak menimbulkan beban bagi umat Islam, perlu dilakukan upaya untuk memproduktifkan harta wakaf yang ada. Misalnya wakaf dalam bentuk bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk masjid dan sekolah, diubah menjadi produktif. Misalnya dijadikan sebagai swalayan mini, pertokoan, dan lain-lain.

Apabila wakaf tersebut berbentuk tanah dan berada di kawasan strategis, dibangun sebagai tempat kegiatan-kegiatan produktif. Seperti untuk pertokoan, ruang pertemuan (untuk tempat pesta perkawinan, seminar, workshop). Sedangkan tanah yang tidak berada di kawasan strategis dapat dipergunakan untuk membangun agrobisnis dan perkebunan.

Hasil yang diperoleh dari kegiatan diatas, dapat dipergunakan sebagai sumber dana abadi masjid. Apabila ini berhasil dilakukan maka masjid akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

2.1. Wakaf Tunai/Uang

Penafsiran kembali ajaran wakaf terjadi karena persoalan yang mangkin kompleks. Agar tetap seiring dengan perkembangan masyarakat maka teori wakaf perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan teori keuangan dan perbankan. Perkembangan teori keuangan dan perbankan menghasilkan konsep semacam cash waqf atau wakaf tunai (Departemen Agama RI, 2004).

Wakaf tunai ternyata sudah dilaksanakan sejak awal abad kedua hijriah. Imam az-Zuhri (wafat 124 H) salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al hadits memfatwakan, dianjurkan wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial dan pendidikan umat Islam. Adapun caranya dengan melaburkannya, kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.

Walau bagaimanapun dalam hal wakaf tunai belum banyak negara yang melaksanakannya. Keadaan ini disebabkan masih berlakunya perbedaan pendapat di antara ulama tentang kedudukan hukum wakaf tunai ini, yaitu antara pihak yang membolehkan dan pihak yang melarang. Namun demikian, wakaf tunai sudah dilaksanakan di beberapa negara, di Bangladesh umpamanya Sertifikat Wakaf Tunai telah dipergunakan sebagai suatu instrumen keuangan pada perbankan yang mengelola dana-dana sumbangan seperti dilaksanakan Social Investment Bank Limited (SIBL). Sertifikat Wakaf Tunai yang dikeluarkan oleh SIBL merupakan produk yang pertama diperkenalkan dalam sejarah perbankan. Dengan sertifikat wakaf tunai ini memberi peluang kepada umat Islam di Bangladesh untuk membuat investasi dalam bidang keagamaan, pendidikan dan pengabdian sosial. Selain itu Islami Bank Bangladesh (Ltd) atau IBBL juga menawarkan wakaf tunai yang dikenali sebagai Mudaraba waqf Cash Deposit Account (MWCDA). Wang tersebut akan ditujukan untuk tujuan-tujuan kebajikan. Deposit wakaf tunai tersebut menjadi wakaf dengan menggunakan prinsip mudarabah, pihak bank akan mengurus uang tersebut bagi pihak waqif (the Bangladesh Journal, 2004). Sertifikat wakaf tunai ini juga boleh berperanan untuk memobilisasi dana bagi mengembangankan harta wakaf di Bangladesh (M.A. Mannan, 2001).

Wacana wakaf wang/tunai ini mendapat respon positif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah pada tahun 2001 Prof. M.A Manan, ketua Social Investment Bank Ltd (SIBL) memberikan seminar di Indonesia mengenai wakaf wang. Akhirnya tanggal 11 Mei 2002 MUI mengeluarkan fatwa tentang diperbolehkannya wakaf wang (waqfal-nuqud), dengan syarat nilai pokok wakaf harus dijamin kelestariannya.

Melihat perkembangan zaman, dan sesuatu hal yang tidak dapat disanggah bahwa uang merupakan suatu variabel penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat, sehingga pertimbangan MUI mengeluarkan fatwa berkenaan diperbolehkannya wakaf uang didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan antara lain:

1. Firman Allah swt:

– Surah Ali Imran ayat 92 yang artinya:
”Kamu sekalian tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

– Surah Al-Baqarah ayat 261-262 yang artinya:
”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah maha luas (karunia lagi maha mengetahui).

Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkanya itu dengan menyebut-nyebut pemberian-nya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerima) mereka memperoleh pahala disisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

2. Hadis Nabi Muhammad SAW yaitu:

– Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahawa Rasulullah bersabda: ”Apabila manusia meninggal dunia terputuslah (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga hal” yaitu Shadaqah Jariyah (wakaf), Ilmu yang dimanfaatkan, Anak yang sholeh yang mendoakannya (H.R. Muslim, al-Tharmidzi, al-Nasa’i, dan Abu Daud).

-Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, bahawa Umar bin Khatab r.a memperoleh tanah (kebun) di Khaibar, lalu ia datang kepada Nabi SAW, untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut, ia berkata Wahai Rasulullah saya memperoleh tanah di Khaibar, yang belum pernah saya peroleh harta yang lebih baik bagiku melebihi tanah tersebut, apa perintah engkau (kepadaku) mengenainya?, Nabi SAW menjawab, jika mau, kamu tahan pokoknya dan kamu sedekahkan (hasilnya), Ibnu Umar berkata, maka Umar menyedekahkan tanah tersebut (dengan mensyaratkan) bahwa tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan) ia menyedekahkan hasilnya kepada fuqara, kerabat, riqab (hamba sahaya, orang tertindas), sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak berdosa dari orang yang mengelola untuk memakan dari (hasil) tanah itu secara ma’ruf (wajar) dan memberi makan (kepada orang lain) tanpa menjadikannya sebagai harta hak milik. Rawi berkata, saya menceritakan hadis tersebut kepada Ibnu Sirin, lalu ia berkata ’ghaira mutaatstsilin malan’ (tanpa menyimpanya sebagai harta hak milik). (H.R. al-Bukhari, Muslim, al Tharmidzi, al-Nasa’i)

– Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, ia berkata Umar bin Khatab r.a berkata kepada Nabi SAW, saya mempunyai seratus saham (tanah, kebun) di Khaibar belum pernah saya mendapatkan harta yang lebih saya kagumi melebihi tanah itu, saya bermaksud menyedekahkannya” Nabi SAW, berkata” Tahanlah pokoknya dan sedekahkan buahnya pada sabilillah”. (H.R. al-Nasa’i)

3. Pendapat para ulama

-Pendapat Imam al-Zuhri (w. 124.H)
Bahwa mewakafkan dinar hukumnya boleh, dengan cara menjadikan dinar tersebut sebagai modal usaha kemudian keuntungannya disalurkan kepada mauquf ‘alaih (Abu Su’ud Muhammad, tt).

-Mutaqaddimin dari ulama mahzab Hanafi (Al Zuhaili, 1985: 162) Membolehkan wakaf uang dinar dan dirham sebagai pengecualian, atas dasar istihsan bi al-‘Urfi berdasarkan atsar Abdullah bin Mas’ud r.a.: “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka dalam pandang Allah adalah baik, dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin maka dalam pandangan Allah-pun buruk”.

– Pendapat sebagian ulama al-Syafi’i:
Abu Tsaur meriwayatkan dari Imam al-Syafi’i tentang kebolehan wakaf dinar dan dirham (wang) (Al-Muwardi, 1994).

Berdasarkan beberapa dalil dan pendapat para ulama tersebut maka MUI melalui komisi fatwa mengeluarkan fatwa tentang wakaf uang yang ber isi: Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar’iy;

a. Wakaf uang (cash wakaf/waqf al-Nuqud) adalah wakaf yang dilakukan oleh seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk wang tunai;

b. Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga;

c. Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh);

d. Nilai pokok wakaf wang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau diwariskan.

Keluarnya fatwa MUI ini, setelah terlebih dahulu mendengarkan pandangan dan pendapat rapat komisi fatwa MUI pada hari Sabtu tanggal 23 Maret 2002, antara lain tentang perlunya dilakukan peninjauan dan penyempurnaan (pengembangan) definisi wakaf yang telah umum diketahui, dengan memperhatikan maksud hadis antara lain riwayat dari Ibnu Umar.

Selanjutnya pendapat rapat Komisi Fatwa MUI pada hari Sabtu tanggal 11 Mei 2002 tentang rumusan definisi wakaf, yakni: “menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya atau pokoknya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut (misal; menjual, memberikan, atau mewariskannya), untuk disalurkan (hasilnya) pada sesuatu yang mubah (tidak haram).

Dari uraian diatas, wakaf tunai sangat berpeluang dijadikan sebagai sumber keuangan abadi masjid. Sebab wakaf ini fleksibel, yaitu dapat dilaksanakan oleh masyarakat sesuai dengan tingkat kemampuan ekonomi masing-masing dan mudah untuk dikelola nazhir.

Di Indonesia, wakaf tunai ini sudah mulai dikembangkan oleh beberapa lembaga, seperti yang dilaksanakan oleh Tabung Wakaf Indonesia, Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhmmadiyah Sumatera Utara dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara.

2.2. Wakaf Gelicok, Wakaf Gelisa, Wakaf Gelike dan Wakaf Sampan.

Wakaf Gelicok, Gelisa dan Gelike ini sangat mungkin dikembangkan di daerah-daerah pertanian dan perkebunan. Gelicok adalah singkatan dari wakaf gerakan lima batang coklat, sedangkan Gelisa singkatan daru gerakan lima batang sawit dan Gelike merupakan singkatan dari gerakan lima batang kelapa.

Wakaf Gelicok, Gelisa dan Gelike ini dilakukan dengan cara wakif mengikrarkan bahwa lima pohon (coklat, sawit dan kelapa) yang ada di kebunnya diwakafkan untuk kepentingan masjid. Uang yang diperoleh dari penjualan hasil lima batang pohon coklat tersebut, selama jangka waktu tertentu (misalnya satu, dua atau tiga tahun) akan diwakafkan kepada Nazhir wakaf Masjid. Oleh Nazhir wakaf masjid, uang yang diwakafkan oleh wakif dijadikan sebagai wakaf tunai/uang.

Kalau yang melakukan gerakan wakaf dengan pola ini jumlahnya banyak, tentunya akan terkumpul dana wakaf yang lumayan besar. Apabila jumlah dana wakaf tunai lumayan besar, hasil investasi yang diperolehpun akan semakin besar. Selanjutnya hasil investasi wakaf tunai tersebutlah yang dijadikan sebagai sumber keuangan abadi masjid.

Wakaf sampan atau wakaf ikan berpeluang besar untuk dikembangkan di daerah-daerah pantai, umumnya penduduk berprofesi sebagai nelayan. Wakaf sampan adalah wakaf yang dilakukan oleh wakif yang berprofesi sebagai nelayan dengan cara mengikrarkan satu atau beberapa sampan yang dimilikinya diwakafkan. Uang hasil operasional sampan yang diperoleh dari sampan tersebut akan diwakafkan ke nazhir masjid.

Kalau wakif hanya memiliki sampan yang terbatas dapat berwakaf dengan cara mewakafkan 5% atau 10% dari hasil tangkapannya setiap hari. Uang hasil penjualan dari ikan yang diwakafkan diserahkan kepada nazhir wakaf.

Petani dan nelayan yang melakukan wakaf dengan cara ini, tidak perlu takut akan mengurangi penghasilan yang akan diperolehnya. Al-Qur’an di dalam surat Al-Baqarah ayat 261 yang intinya menegaskan bahwa orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Allah akan melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.

Dengan penegasan Al-Qur’an tersebut, mestinya umat Islam harus meyakini bahwa apa saja yang dinafkahkannya di jalan Allah (apalagi berwakaf untuk kepentingan masjid) merupan tanda kesyukurannya kepada Allah. Apabila ini dilakukan tentunya rezki yang diperoleh pun akan semakin bertambah.

Strategi Pengumpulan dan Pengelolan Wakaf

Perubahan paradigm pengelolan wakaf dari tradisional ke professional harus segera dilakukan. Baik dalam pengumpulan maupun pengelolaan wakaf. Perobahan paradigma dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Perencanaan

Sebelum melakukan penggalangan wakaf, harus dibuat suatu planning. Planing tersebut antara lain berisi: bagaimana menjalannya, kapan mulai dilaksanakan dan sumber daya apa yang dimiliki.

Membentuk Nazhir Wakaf

Nazhir wakaf perlu dibentuk, bertugas untuk mengumpulkan dan mengelola wakaf. Nazhir perlu ditetapkan apakah menggunakan tenaga staf yang memperoleh penghasilan, sukarelawan atau campuran kedua-duanya.

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, membuka peluang nazhir untuk memperoleh penghasilan dari wakaf yang dikelolanya. Pasal 12 menegaskan bahwa dalam melaksanakan tugas, Nazhir dapat menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan penhembangan harta benda wakaf yang besarnya tidak melebihi 10% (sepuluh persen).

Melakukan sosialisasi

Komitmen wakaf dijadikan sebagai sumber dana abadi masjid perlu dilakukan sosialisasi kemasyarakat, antara lain dapat dilakukan dengan cara:

  1. Melalui majlis taklim atau pengajian-pengajian.
  2. Khutbah jum’at.
  3. Melalui leaflet, brosur atau booklet.
  4. Melalui spanduk,banner, baliho atau spanduk.
  5. Melalui media massa.
  6. Melalui radio dan televisi.
  7. Melalui film dan video.
  8. Portal Website (sekarang ini yang gratis cukup banyak)

Akuntabilitas Publik

Gerakan wakaf ini dapat berjalan, apabila mendapat kepercayaan dari masyarakat. Untuk memperoleh kepercayaan itu pengelolaan wakaf dan penggunaan hasilnya harus dilakukan secara transparan.

Untuk itu aktivitas pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan hasil wakaf harus dilaporkan secara rutin kepada masyarakat secara priodik, misalnya diumumkan di publikasi masjid. Bahkan, jika diperlukan dipublikasi di media massa.

Kesulitan keuangan, terutama sekali untuk biaya operasional kegiatan umumnya selalu dialami oleh masjid. Untuk itu perlu dilakukan terobosan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Salah satu alternatif yang berpeluang untuk mengatasi persoalan, yaitu dengan cara mendayagunakan institusi wakaf. Sebab, apabila wakaf dikelola secara baik berpeluang untuk dijadikan sebagai sumber dana abadi masjid.

Untuk itu diperlukan upaya-upaya sosialisasi dari kalangan ulama dan cendikiawan muslim, serta organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan dan dakwah, sehingga masyarakat dapat memahami urgensi wakaf dalam upaya membangun sumber keuangan abadi masjid. Gilirannya masjid akan dapat berperan dalam melakukan pembangunan umat.

Wakaf Uang Perlu Sosialisasi

Oleh Suhrawardi K Lubis

Sumber: http://www.waspada.co.id/

Wakaf uang atau disebut juga wakaf tunai atau cash waqf atau wakaf annuqud adalah modalnya dikekalkan sedangkan keuntungan investasinya dimanfaatkan sesuai dengan tujuan pemberi wakaf (Mohd Fauzi Mustafa, 2006). Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin (2004) menekankan bahwa modal dikekalkan yang diberikan wakif untuk tujuan mengharapkan semata-mata ridha Allah. Dana yang digolongkan wakaf tunai ini akan diinvestasikan agar dapat menghasilkan keuntungan dan keuntungan tersebut kemudian dimanfaatkan sesuai dengan tujuan wakaf oleh wakif.

Sebenarnya wakaf tunai bertujuan untuk menghimpun dana abadi yang bersumber dari umat, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Wakaf tunai memberi kesempatan kepada setiap orang untuk bersedekah jariah dan mendapatkan pahala yang tidak terputus tanpa harus menungu menjadi kaya, orang bisa berwakaf dengan jumlah tertentu yang ditetapkan pengelola wakaf sebagai patokan penerbitan Sertifikat Wakaf.

Wakaf yang terkumpul kemudian diinvestasikan ke berbagai bidang usaha yang halal dan produktif, dan keuntungan yang diperoleh dapat digunakan untuk pembangunan umat dan bangsa secara keseluruhan (Tabung Wakaf, 2006). Wakaf tunai ternyata sudah dilaksanakan sejak awal abad kedua hijriah. Imam azZuhri (wafat 124 H) salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al hadits memfatwakan, dianjurkan wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam. Adapun caranya dengan menjadikan uang tersebut sebagai modal usaha kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.

Wakaf Uang di Indonesia
Wakaf merupakan bentuk muamalah yang bersifat kebendaan yang sudah sangat lama dikenal, dan telah ada semenjak kehidupan bermasyarakat itu ada, setiap komunitas manusia selalu menyediakan fasilitas yang bersifat pelayanan umum yang dibutuhkan manusia secara bersama. Seperti tempat ibadah, jalan raya, sumber air serta fasilitas umum lainnya merupakan wakaf yang di kenal semenjak dulu kala. alam Islam wakaf banyak tumbuh dan berkembang pada masa sahabat, terutama sekali semenjak pembebasan semenanjung Arab, seperti wakaf tanah perkebunan yang tersebar di Madinah, Makkah, Khaibar, Syam, Irak, Mesir dan Negara-negara Arab lainya. Mulai saat itu wakaf berkembang sangat pesat, sambutan dan pelaksanaan wakaf dari sahabat sangat besar, Jabir r.a. menyebutkan tidak seorang pun dari sahabat yang mempunyai kemampuan yang tidak ikut bewakaf (Az-Zuhali, 7599).

Demikian juga halnya di Indonesia, perkembangan wakaf juga berjalan seiring dengan berkembangnya dakwah Islam di Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya masjid dan pekuburan di atas tanah wakaf, baik sebelum masa penjajahan, masa penjajahan, maupun sesudah kemerdekaan. Namun demikian perkembangan dan pengelolaan wakaf mengalami kemandekan dan kebekuan, dan akhirnya wakaf identik dengan masjid dan tanah kuburan saja. epartemen Agama mulai tahun 2005 melalui Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf sudah membuat panduan-panduan pengelolaan wakaf tunai, namun sayang kurang tersosialisasi dengan baik ke tengah-tengah masyarakat. erwujudan dan pengembangan wakaf uang di Indonesia telah mulai dikembangkan oleh Dompet Dhuafa Republika. Lembaga ini mempunyai misi kemanusiaan membantu golongan dhuafa melalui dan Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf (ZISWAF), lebih lanjut oleh Dompet Dhuafa diperkenalkan pula apa yang di kenal dengan wakaf investasi dan sekaligus mendirikan Tabung Wakaf Indonesia sebagai lembaga pengelola.

Penutup
Walaupun wakaf uang sudah dilaksanakan beberapa tahun belakangan ini, namun masih belum mendapat sambutan berarti dari masyarakat dibandingkan dengan wakaf tanah. Hal ini terjadi disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat tentang kedudukan hukum wakaf uang ini. ntuk itu diperlukan upaya sosialisasi dari kalangan ulama dan cendikiawan muslim, serta organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan dan dakwah, sehingga masyarakat dapat memahami urgensi wakaf uang dalam upaya membangun sumber keuangan abadi umat, yang manfaatnya akan mengalir bagaikan air tiada pernah berhenti dan pada gilirannya akan dapat melahirkan kemaslahatan bagi umat. epada Departemen Agama, Kanwil Departemen Agama Provinsi dan Kantor Departemen Agama Kabupaten Kota diharapkan memberikan perhatian yang serius untuk melakukan koordinasi dan sosialisasi, terutama sekali melakukan penyuluhan-penyuluhan wakaf uang dan menyebarluaskan buku yang disusun oleh Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf kepada para muballigh dan masyarakat lainnya. Semoga.

Penulis adalah pengajar Program Pascasarjana UMSU, Bendahara PW.Muhammadiyah Sumatera Utara dan Peserta Program PhD USM Pulau Pinang-Malaysia, bidang kajian Pengurusan Pembangunan beteraskan Islam.
E-mail: suhrawardilubis@yahoo.com

One response to “Suhrawardi K Lubis

  1. Ass…pak suhrawardi, saya yudi purnomo mahasiswa IAIN, sebelumnya saya ingin bertanya mengapa warga Muhammadiyah SU tidak mengambil peran penting dalam sosialisasi wakaf uang?, dan di setiap universitas ada gerakan organisasi muhammadiyah mengapa mereka tidak di ikut sertakan dalam gerakan wakaf tunai?, mungkin ini salah satu penyebab kurangnya sosialisasi gerakan wakaf uang, padahal organisasi muhammadiyah memiliki ‘power besar’ dalam mensukseskan gerakan wakaf tunai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s